Di zaman sekarang, makin banyak orang sadar betapa beratnya jadi sandwich generation. Kita makin sadar betapa hopeless-nya kehidupan yang dihimpit oleh ekspektasi dari berbagai sisi. Engga heran, film-film yang mengangkat tema ini sering sukses menyentuh hati penonton. Sebut saja Home Sweet Loan. Film yang yang rilis tahun kemarin ini sukses beresonansi ke kehidupan banyak penonton yang tidak bisa mengusahakan mimpi karena tergencet realita in this economy. Di tahun ini pun tema serupa coba dibawa oleh 1 Kakak 7 Ponakan.
Film ini fikm bagus, kalau cuma ditonton sekali. Memang, filmnya berhasil mengaduk-aduk emosi penonton. Di berbagai review pun juga dipuja-puji. Tapi jujur aja, kalau mau sedikit kritis, ada banyak yang kurang.
Masalah kebanyakan
Mengambil term yang lumayan populer di social media, 1 Kakak 7 Ponakan terkesan mengeksploitasi apa yang disebut poverty porn.
Kamu bisa baca sendiri definisinya di Wikipedia, tapi singkatnya film ini dengan sadar seperti sedang berusaha untuk mengeksploitasi hidup Moko yang serba sulit. Tujuannya? semata-mata untuk memantik rasa iba dan simpati penonton.
Moko, karakter utama, hidupnya bener-bener penuh ujian. Orang-tuanya meninggal, kakak-kakaknya meninggal, tiba-tiba harus ngurus tujuh keponakan. Kemalangannya tidak berhenti sampai di situ. Kerjaannya kacau, keuangan hancur, dan dia tetap harus jadi orang baik. Well, di dunia nyata memang kondisi ini jamak terutama in dis economy, masalahnya, semua hal tadi diceritakan dalam durasi yang terlalu singkat, jadi kesannya sengaja bikin tokohnya menderita biar penonton berempati.
Kalau ini serial, kita bisa lihat perjuangan Moko dengan lebih natural. Gimana dia awalnya clueless, bikin kesalahan, belajar, dan akhirnya berkembang. Bukannya langsung dilempar ke semua masalah sekaligus dan selesai dalam dua jam.
Moko Terlalu Orang Bak Sampai Nggak Realistis
Jadi orang baik itu perlu. Tapi si Moko ini ditulis terlalu baik sampai nggak masuk akal. Dia nggak pernah marah, nggak pernah ngeluh, nggak pernah benar-benar protes sama keadaan. Well pernah sih, tapi tidak sampai meledak. Padahal, manusia normal kalau kena masalah segini banyak pasti ada momen di mana dia kesel, kecewa, atau bahkan egois.
Kalau jadi serial, kita bisa lihat sisi Moko yang lebih manusiawi. Mungkin ada satu episode di mana dia frustasi dan meledak. Mungkin ada adegan di mana dia mikir, kenapa sih gue yang harus nanggung semua ini? Momen-momen kayak gitu bakal bikin dia terasa lebih hidup, lebih nyata.
Backstory Moko-Maurin? Kok Kayak Nggak Ada!
Maurin, si cewek idaman di film ini, terlalu sempurna. Baik, cantik, perhatian, dan selalu ada buat Moko. Tapi kenapa? Apa yang bikin dia segitu pedulinya sama Moko yang hidupnya berantakan?
Sayangnya, film nggak ngasih cukup alasan kenapa Maurin segitu nempelnya sama Moko. Kalau ini serial, kita bisa punya satu atau dua episode buat ngegali hubungan mereka. Mungkin mereka punya sejarah yang nggak diceritain di film? Mungkin ada sesuatu yang bikin Maurin segitu invest di hidupnya Moko? Sekarang, kesannya dia ada di cerita cuma biar Moko punya love interest aja.
Moko: Orang Paling Apes atau Paling Beruntung?
Di satu sisi, hidup Moko kayak penuh kesialan. Tapi di sisi lain, tiba-tiba aja dia dapet solusi dari entah mana. Pekerjaan baru? Solusi keuangan? Datang begitu saja.
Ini bikin gue bertanya-tanya: emang sengaja ditulis gitu (alias lazy writing), atau emang karena durasinya nggak cukup? Kalau ini serial, kita bisa lihat dia bener-bener berjuang buat dapet solusinya. Nggak cuma tiba-tiba hoki dan semua masalah selesai dalam satu scene.
Kesimpulan: mending dibikin serial aja
Sebenernya, 1 Kakak 7 Ponakan punya cerita yang menarik dan emosional. Tapi dengan durasi film, semuanya terasa kecepatan. Kalau dibuat jadi serial 12 episode, kita bisa lebih mengenal karakter, lebih merasakan perjuangan mereka, dan lebih relate sama konflik yang dialami Moko.
Bukannya sekadar cerita penuh penderitaan, tapi perjalanan seorang kakak yang benar-benar berkembang, jatuh, bangkit, dan belajar.
Kalau menurut kamu gimana? Setuju nggak kalau film ini lebih cocok jadi serial? Boleh diskusi di kolom komentar!
Leave a Reply