wine glass with red liquid on black table

Air menjadi anggur

Saat blog post ini di-publish, kita sudah memasuki minggu pertama bulan Februari 2025. Januari telah usai, ini tanda kalau waktu terus bergerak maju tapi I, ironically, feel the time is frozen, stuck.

Kamu merasa kayak gitu juga, ga? Semoga it’s just me. 

Awal tahun 2025 ini seperti berjalan di tempat, if not berjalan mundur. Seperti tidak peduli seberapa keras saya berusaha, saya tetap terjebak di titik yang sama.

Dengan waktu yang sama, orang lain tampak melangkah maju dengan mudah, but me? Saya seperti orang yang diundang ke sebuah pesta karena formalitas. Tidak menikmati perayaan tapi ikut makan karena ya there is no other thing to do. Semua orang di sekitarnya bersulang, tertawa, dan merayakan, tetapi bagi orang ini (saya), tidak terasa apapun but kosong dan sepi. 

Dan Minggu kemarin saya mendapati khotbah Minggu-nya adalah tentang Pernikahan di Kana (Yohanes 2: 1-13), dan nampaknya cukup relate.

Dalam banyak hal, kehidupan kita bisa terasa seperti pesta yang kehabisan anggur. Kita mungkin memulai dengan penuh semangat, penuh harapan dan kegembiraan, tapi di tengah perayaan, kita menemukan diri kita takut dan khawatir karena anggur yang disiapkan sudah habis dan tidak bisa di-refill. Pesta yang tadi meriah dan penuh tawa masih tetap begitu, tapi hanya di depan saja. Di belakang, si pemilik pesta sedang kelimpungan seperti meme Spongebob.

Di momen itu, kita sebagai pemilik pesta tentu harus membuat senyum palsu di hadapan para tamu, tapi berubah jadi pemarah ke siapa pun yang membantu di belakang. Itulah saat-saat di mana kita merindukan keajaiban—sesuatu yang mengubah keadaan kita, sesuatu yang memberi harapan baru. Ini agaknya yang saya rasakan belakangan. I am mad at everything and everyone tapi tetap berusaha terlihat baik-baik saja.

Di situ lah saya mendapati cerita Pernikahan di Kana tadi relatable. Sama seperti situasi si mempelai, I desperately need mukjizat. I need Yesus mengisi tempayanku ini dengan anggur.

Latar Belakang dan Maknanya

I am sure you all know the context of the story, but I will tell you anyway as ceritanya pendeta hari Minggu kemarin.

Cerita ini dimulai dengan Yesus, ibu-Nya Maria, dan murid-murid-Nya yang diundang ke sebuah pesta pernikahan. Di zaman itu, pesta pernikahan bisa berlangsung beberapa hari, jadi kehabisan anggur adalah hal yang memalukan bagi tuan rumah. Maria, yang peka terhadap situasi, memberi tahu Yesus soal ini. Awalnya, Yesus merespons dengan berkata, “Ibu, mengapa engkau menyampaikan hal itu kepada-Ku? Waktu-Ku belum tiba.” Namun, Maria tetap meminta para pelayan untuk mengikuti arahan Yesus.

Yesus lalu menyuruh mereka mengisi enam tempayan batu dengan air. Tempayan ini biasanya dipakai untuk upacara penyucian. Setelah airnya diambil dan disajikan, ternyata sudah berubah menjadi anggur berkualitas tinggi! Bahkan, tamu-tamu pesta sampai heran kenapa anggur terbaiknya tidak habis-habis sampai akhir.

Berkat dari Doa Orang Lain

Mari kita sedikit look back ke belakang. Di cerita ini, yang memiliki masalah adalah si mempelai. But, siapa yang meminta tolong supaya mukjizat terjadi? Maria ibu Yesus.

Ini menarik dari karena ternyata mukjizat bisa terjadi bahkan saat kita tidak meminta, tapi saat orang lain yang berdoa. Ini mengajarkan kita bahwa doa bisa menjadi berkat bagi sesama. Terkadang, kita mendapatkan berkat bukan karena doa kita sendiri, tetapi karena ada orang lain yang mendoakan kita dengan tulus. 

Yesus Memberkati Sesuai Kapasitas Kita

Hal lain yang juga menarik adalah banyaknya anggur yang “diubah” Yesus. Yesus tidak menciptakan lebih dari yang dibutuhkan. Si keluarga mempelai punya enam tempayan, dan semuanya diisi penuh, tapi tidak lebih dari itu.

Apakah Yesus bisa membuat penuh tujuh tempayan? delapan tempayan? sepuluh tempayan? Tentu bisa. Tapi Yesus “membatasi” mukjizatNya di enam tempayan saja. Alasannya? Because that’s all they got! Ini menunjukkan bahwa Yesus memberkati sesuai dengan kapasitas kita. Artinya, Tuhan tahu batas kemampuan kita dan memberikan yang terbaik sesuai dengan kesiapan kita. 

Pelajaran dari Mukjizat Ini

Dari kisah ini, saya belajar beberapa hal penting. Pertama, iman dan ketaatan itu penting. Maria percaya pada Yesus, dan para pelayan menaati perintah-Nya tanpa ragu. Di ayat itu diceritakan kalau pelayan-pelayan di pesta itu nurut aja apa yang dikatakan Yesus, kan? Mereka ga banyak tanya, langsung melakukan.

Hasilnya? Keajaiban terjadi. Ini mengingatkan kita bahwa iman dan ketaatan kepada Tuhan bisa membawa perubahan besar dalam hidup kita.

Kedua, Tuhan selalu menyediakan apa yang kita butuhkan. Di pesta itu, Yesus yang memastikan si keluarga mempelai tidak kehabisan anggur, SETELAH Maria meminta. Sebegitu powerful-nya kekuatan doa sampai Yesus pun berubah pikiran dari tidak mau jadi mau membantu keluarga mempelai. Tuhan memperhatikan kebutuhan kita, baik secara spiritual maupun materiil. Kita hanya perlu meminta/berdoa, percaya dan berserah sampai waktu Tuhan itu tiba.

Kesimpulan

Mukjizat pertama Yesus di pesta pernikahan di Kana bukan sekadar keajaiban biasa, tapi punya makna yang menurut saya cukup dalam. Ini menunjukkan kuasa-Nya, kepedulian-Nya, dan bagaimana Ia bekerja dalam hidup kita. Kita juga belajar bahwa berkat sering datang akibat doa bahkan dari orang-orang yang tidak kita kenal-kenal amat. Tuhan juga memberkati sesuai dengan KESIAPAN kita.

Itulah yang saya coba pegang teguh. Saat tulisan ini di-publish, tempayan saya belum tentu jadi terisi dengan anggur. Tapi saya percaya kalau Yesus bisa kapan saja melakukan mukjizatnya. Jadi, mari kita terus beriman, berdoa untuk sesama, dan bersiap-siap sampai waktu itu tiba.


Note: Tulisan ini dibuat bukan untuk menggurui pembaca. Penulis bukan pendeta dan ilmu agamanya juga tidak seberapa. Tulisan ini hanya untuk dibaca. Jika kamu menjadi tergerak, percayalah itu karena Tuhan saja.


Category:

Up next:

Before:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *