Akhirnya sampai juga kita di penghujung tahun 2025. Kalau Desember sudah datang lagi, ini tandanya ritual resolusi kosong akan dilakukan lagi.
Gimana progress resolusi awal tahunnya kawan? Masih on-track, off-track atau sama sekali tidak dilakukan? Apapun itu, just enjoy the moment karena bulan Desember adalah bulan yang dipenuhi sukacita dan harapan.
Di bulan ini ada kita merayakan Natal—momen di mana Baby Jesus datang ke dunia untuk membawa keselamatan. Namun, di tengah kemeriahan dan refleksi akhir tahun, saya menemukan sesuatu yang a bit intriguing: a video about David vs Goliath. Classic and everyone knows the story, until I watch thsi video.
Di video yang dinarasikan oleh Malcolm Gladwell itu, kisah heroism ini dianalisis melalui lensa psikologi modern. Thesis question-nya menarik: apakah Daud se-underdog yang kita kira?
Well, kita bisa bilang Daud bukan underdog karena God is on his side. Poin itu betul tapi sorry to say, itu biasa banget. Mari kita coba bedah dengan agak “duniawi” sedikit.
Tentara berbulu gembala(?)
Kisah Daud dan Goliath sering diceritakan sebagai kisah underdog terhebat. Namun, mari kita lupakan anggapan kita kalau Daud itu “anak kecil tak berdaya.” Selama ini, kita diceritakan kalau Daud ini seolah-olah hasil keajaiban yang ujug-ujug terjadi. Tapi Malcolm Gladwell justru memberi prespektif kalau kalau Daud menang karena strategi dan determinasi! Now, that’s new.
Daud ini diceritakan di Alkitab sudah bertahun-tahun melindungi kawanannya dari hewan buas. Constant battle yang tak ubahnya medan perang ini menempa Daud menjadi seorang kombatan berpengalaman.
“Latihan yang diulang-ulang” itu membikin Daud menjadi spesialis yang sangat terampil. Malcolm Gladwell bilang kalau pasukan perang jaman dulu biasanya terdiri dari 3 layer. Layer pertama adalah cavalry. Ini adalah pasukan berkuda yang tugasnya menyerang garis depan dengan kecepatan dan mobility. Layer kedua adalah infantri. Ini adalah pasukan pejalan kaki. Ini biasanya adalah pasukan terkuat terutama di close-range combat. Layer terakhir adalah artillery. Ini adalah pasukan garis belakang yang ahli dalam long-range combat. Biasanya memakai persenjataan seperti roket, canon, dan jeng-jeng ketapel/sling.
Yup, Daud arguably qualified menjadi artillery. Ketapel yang dibawanya pun ketapel mainan yang selama ini ada di bayangan kita. Di banyak ilustrasi, ketapel Daud adalah jenis yang diputar-putar dengan cepat sebelum projectile dilepaskan. Sling ini mampu meluncurkan batu dengan kecepatan dan daya hancur yang mematikan dari jarak jauh. That is exactly what artillery at that time used.
And again, since Daud diceritakan cukup berpengalaman mengamankan flock-nya, bisa kita bayangkan kalau lemparan sling Daud itu luar biasa akurat.
Poin kedua adalah taktikal. Dari Alkitab, kita tau Goliath sudah mengharapkan pertarungan jarak dekat. Dia berharap akan beradu pedang dengan infantri terkuat lawan. And here comes Daud yang datang dengan sling dan batu.
Melawan spesialis jarak jauh jelas adalah sebuah kejutan yang tidak dia pikirkan. Tubuh besar dan perlengkapan dan baju besinya justru membuat Goliath menjadi “santapan empuk” buat Daud. Goliath jadi lebih mudah dibidik.
All in all, do not try to beat Djokovic at tennis or Messi at football.
Jadi, Daud tidak datang dengan naif dan polos. Dia datang dengan kepercayaan diri, selain dari Tuhan, tapi juga dari keterampilan khusus dan pemahanam taktis yang dia asah selama periode waktu yang lama.
Grit
Video David vs Goliath tadi sedikit banyak mengingatkan saya sama buku “Grit” Angela Duckworth. Kalau kamu perhatikan, ada banyak post di blog ini yang arahnya adalah meresponi “mandat langit” aka luck, seperti di sini.

Saya hampir lupa kalau ada faktor grit yang dibutuhkan untuk memenangkan pertempuran.
Duckworth mendefinisikan grit sebagai “determinasi dan ketekunan untuk tujuan jangka panjang”. Look, ada faktor waktu di sini yang menunjukkan upaya berkelanjutan yang dilakukan dari waktu ke waktu. Determinasi yang terus-menerus inilah yang Duckworth bilang sering kali mengungguli bakat mentah.
Kalau sudah pernah baca bukunya, kamu akan tahu kalau usaha dihitung dua kali dalam so called grit formula:
- Bakat x Upaya = Keterampilan (Skill): Daud mungkin memiliki bakat alami, tetapi keterampilannya yang tak tertandingi dengan tali pengumban dibangun melalui upaya yang tak kenal lelah, dalam durasi yang panjang, selama bertahun-tahun sebagai gembala.
- Keterampilan x Upaya = Pencapaian (Achievement): Kemenangan Daud adalah pencapaian tertinggi, puncak dari penerapan keterampilannya yang sempurna dengan dosis upaya kedua yang luar biasa—tekad dan keberanian yang teguh untuk maju ketika semua orang ketakutan.
Angela Duckworth seolah secara subtle ingin bilang kalau kerja keras bisa beat talent if only kerja kerasnya dilakukan terus-terusan.
Kisah Daud di Alkitab mencerminkan empat pilar untuk menumbuhkan grit:
- Mengembangkan Ketertarikan/Gairah: Daud berdedikasi pada tugasnya sebagai gembala, terus-menerus berlatih dan meningkatkan keterampilan vitalnya, bulan demi bulan, tahun demi tahun. Di buku-buku management, ini disebut “ownership”.
- Berusaha Meningkatkan Diri Setiap Hari: Kewaspadaan yang konstan terhadap ancaman serangan hewar buas berarti “latihan” yang berkelanjutan dan disengaja. Kalau mau di-stretch, ini sebenarnya ada “system” yang membuat Daud menjadi 1% better than he was yesterday (read Atomic Habit kalau mau lebih jelas).
- Mengingatkan Diri pada Tujuan yang Lebih Besar: Daud marah karena Goliath “menghina barisan tentara Allah yang hidup.” Tujuan utamanya adalah untuk menghormati Tuhan, memberinya jangkar spiritual yang akan menopangnya melalui kesulitan apa pun.
- Mengadopsi Growth Mindset: Daud percaya bahwa keberhasilan di masa lalu membuktikan kemampuannya untuk bertahan dan mengatasi tantangan di masa depan.
Deku adalah Daud
Sebagai half-wibu, video Daud tadi juga sedikit banuak mengingatkan saya sama Deku dari dari My Hero Academia. Di kepala saya, Deku mungkin adalah padanan modern dari Daud.
Deku di My Hero Academia adalah tokoh yang unik karena karakternya menantang stereotip Shonen di mana banyak tokoh “yang tidak diunggulkan” akhirnya mengungkapkan garis keturunan tersembunyi atau bakat bawaan. Lihat Naruto dan Luffy. Keduanya adalah karakter yang kita anggap underdog tapi ternyata punya privilege dari lineage mereka.
Deku, sebaliknya, adalah orang biasa yang benar-benar biasa. Dia dicemooh dan diejek karena lahir tanpa kekuatan super (quirkless) di semesta yang 80% penduduknya bisa menjadi superhero (kalau mereka lulus tes).
Kisah mereka berdua memiliki pola grit yang sama:
Titik Awal: Keduanya adalah orang biasa—Daud seorang gembala, Deku seorang Quirkless—yang sama-sama diremehkan oleh lingkungan mereka. Mereka tidak memiliki hak istimewa atau garis keturunan yang menjanjikan kekuatan instan.
Perolehan Kekuatan: Tali pengumban Daud diperoleh melalui pelatihan intens dan soliter selama bertahun-tahun. Sementara itu, Deku mendapatkan kekuatan One For All (OFA) dari All Might secara kebetulan, bukan karena warisan. Namun, di sini grit masuk: OFA ini super OP tapi merusak tubuh karena saking kuatnya. Ia harus menjalani pelatihan yang melelahkan dan harus “merusak” tubuh selama berbulan-bulan supaya bisa menggunakan quirk titipan tadi dengan maksimal.
See the similarities? Please do not say it is just me seeing them that way wkkw.
Baik Daud maupun Deku membuktikan bahwa faktor penentu dalam pencapaian tertinggi bukanlah karunia atau bakat awal, melainkan grit, sesuai hasil penelitian Angela Duckworth.
Menghadapi 2026
Daud, Deku, dan buku grit memberikan pelajaran yang kuat bagi saya untuk bersiap menghadapi tahun 2026 yang kata influencer konon akan gelap lagi (like what they say for 2024 and 2025):
- Bakat Bukan Segalanya: Goliath memiliki semua “bakat” tradisional, tetapi Daud dan Deku, dengan keterampilan khusus yang diasah dan tekad yang teguh, menunjukkan bahwa upaya yang konsisten dapat mengungguli bakat mentah.
- Investasi Waktu Tidak Dapat Ditawar: Kemenangan mereka bukanlah “keajaiban” dalam semalam, melainkan hasil dari investasi jangka panjang dalam grit yang akhirnya membuahkan hasil.
- Purpose Mendorong Ketekunan: Tujuan yang lebih tinggi—apakah itu kehormatan Tuhan bagi Daud, atau menjadi simbol perdamaian bagi Deku—memberi mereka tekad luar biasa untuk menghadapi apa yang orang lain anggap mustahil. Ketika suatu usaha memberi makna, ketekunan kayaknya bisa stay lebih lama.
Semoga di penghujung tahun ini, percikan semangat dari kisah-kisah grit ini memberi kita semua energi untuk tidak hanya menyambut 2026, tetapi untuk membangun keberhasilan kita sendiri melalui gairah dan ketekunan yang konsisten.

Leave a Reply