fashion hand hurry outfit

Dalam penantian

Imagine yourself sedang ada di depan pintu kamu sedang berdiri di depan pintu kaca Holland Bakery. Tepat depan sana, di balik pintu kaca itu, ada lemper Holland yang kaya daging ayam itu.

Kamu bisa melihat lemper itu dengan jelas — ada di sana, hanya selangkah lagi, tinggal dibuka aja pintunya. Tapi pintunya dikunci. Kuncinya bukan di tanganmu, tapi di tangan kasirnya yang mungkin lagi beli pulsa di konter sebelah. Kamu hanya bisa menunggu.

Hari ini, saya berada di posisi itu.

Saya sedang menunggu. Bukan menunggu waktu berbuka (karena saya Kristen lol), tapi menunggu sebuah keputusan yang bisa mengubah arah hidupku: climbing corporate ladder to the higher level.

Seluruh proses interview sudah selesai. Saya sudah memberikan yang terbaik. Setiap jawaban sudah saya siapkan dengan hati-hati. Nada bicara dan ekspresi sudah dilatih. Tapi tetap ada satu hal yang membuat waswas: 3-month notice period.

Sementara posisi ini harus diisi secepat mungkin.

Agak sedikit Kecewa rasanya tahu bahwa satu hal kecil — yang bahkan tidak sepenuhnya dalam saya punya kendali — bisa menjadi alasan utama saya tidak dipilih. Bukan karena saya tidak cukup baik, tapi karena waktu yang saya punya mungkin tidak cocok dengan waktu mereka.

Menunggu bukan berarti diam

Di momen-momen kecewa nan galau itu, I am so sorry for saying this, datang ke gereja tidak begitu membantu. Firman saat itu tidak begitu membantu membuat saya lebih tenang. Tapi ternyata timing saya saja yang salah. Di dalam sebuah obrolan dengan teman, mereka menyarankan untuk menonton recording ibadah di jam lain di sini dan di sini. And here is the verse:

“Untuk segala sesuatu ada masanya.” (Pengkhotbah 3:1)

Sejak itu, ayat ini sering muncul di pikiran saya, terutama di momen-momen saat ini, saat saya merasa sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Sounds cliche, but the truth holds true: ada masa untuk bekerja keras, dan ada masa untuk menunggu hasilnya. It is just like when I found that verse.

Jujur aja, buat saya (saat ini) fase menunggu jauh lebih sulit daripada masa berjuang. Ketika sedang sibuk, pikiran secara otomatis juga ikut bekerja, which means saya teralihkan dari penantian. Tapi saat sedang tidak melakukan apa-apa, saat menunggu, semuanya terasa diam — dan di keheningan itu, suara-suara kecil mulai berdatangan:

“Apa saya tadi salah jawab?”

“Kenapa mereka belum menghubungi?”

“Gimana kalau tadi saya jawab notice period-nya sebulan aja?”

Menunggu menguras mental lebih dari yang terlihat. Ia memaksa kita (terutama saya) menghadapi hal yang paling menakutkan: ketidakpastian.

Yusuf pernah menunggu

Saat saya merasa proses ini tidak adil, saya jadi teringat pada kisah Yusuf dari kitab Kejadian.

Yusuf tidak minta dijual oleh saudaranya. Dia tidak bersalah saat difitnah oleh istri Potifar. Namun, dia tetap harus mendekam dalam penjara selama bertahun-tahun.

Yang luar biasa, Yusuf tidak menyerah. Ia tetap melakukan bagiannya — tetap setia, tetap bijak, tetap setia pada proses — bahkan ketika dia tidak tahu kapan semuanya akan berubah.

Lalu dalam satu hari, segalanya berubah. Dari penjara, ia dipanggil ke istana oleh Firaun. And everything in his life start to change.

Coba kita reverse sedikit kejadiannya. Gimana kalau Yusuf menyerah (i.e kabur dari penjara) seminggu sebelum hari itu tiba? Kisahnya mungkin ga bakal ada di Alkitab.

Usaha dan keberuntungan — atau waktu Tuhan

Satu buku yang memperluas cara pandangku terhadap fase ini adalah Thinking in Bets oleh Annie Duke. Buku ini membahas bagaimana setiap keputusan dalam hidup adalah campuran antara dua hal: usaha (effort) dan keberuntungan (luck).

Kita bisa memberikan 100% usaha, tapi hasilnya belum tentu sesuai harapan. Ini kayak pertandingan final di sepakbola. Kedua tim jelas usaha mati-matian. But, there is only one winner, and one loser. Besar kemungkinan the loser one kalah bukan karena permainan mereka jelek tapi karena unpredictable factor (i.e own goal di menit akhir).

Bukan karena kita tidak cukup baik, tapi karena hidup memang penuh variabel yang tidak bisa kita kendalikan.

Duke mengajarkan kita untuk memisahkan proses dari hasil. Fokus pada keputusan dan usaha yang baik, tanpa mengikat diri terlalu erat pada hasil akhirnya.

Kalau saya mau tarik lebih rohani, saya rasa keberuntungan ini sama dengan waktu Tuhan. Terkesan acak di permukaan, tapi saat kita melihat ke belakang, kita sering berkata: “Ini ternyata waktu yang tepat”.

Apa yang bisa Dilakukan saat menunggu?

Menunggu bukan berarti pasrah dan berhenti. Menunggu adalah bentuk kerja — kerja hati, kerja iman (this is what pak Pendeta bilang).

Saat ini, saya tetap melakukan hal-hal yang bisa dilakukan: tetap belajar dan mengembangkan diri.

Tetap membuka diri terhadap peluang lain.

Tetap menjaga hati, agar tidak hancur jika hasilnya tak sesuai harapan.

Karena seringkali, penantian adalah perjalanan, bukan tentang hasil. Tentang bagaimana kita menjaga harapan tetap hidup, bahkan saat otak mulai pesimis.

Waktu Tuhan tidak pernah gagal datang

Untuk kamu yang sedang menunggu — apa pun itu: pekerjaan, pasangan, kejelasan hidup — kita ada di fase yang sama. Ini adalah saat di mana kita menyerahkan segalanya dan belajar percaya.

Kita (terutama saya) mesti percaya bahwa saat kita udah melakukan bagian kita, Tuhan tidak akan gagal melakukan bagian-Nya.

Bukan tidak datang — cuma waktunya saja belum tepat.

Dan ketika waktu itu akhirnya datang, kita akan sadar bahwa penantian tidak pernah sia-sia. Bahkan saat morale kita rasanya kita hampir patah.

Category:

Up next:

Before:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *