Sebelum masuk lebih lanjut, mari kita ngomongin soal Arsenal dulu.
Arsenal, salah satu tim di London Utara sana, berhasil menyelesaikan “mission impossible” saat bertandang ke King Power Stadium, kandang Leicester City. Saya sebut sebagai mission impossible karena Arteta dan timnya harus bertanding dengan skuad yang tipis. Bayangin aja, tim ini cuma punya 3 pemain depan di formasi 4-3-3.
Dan memang, Sterling yang diplot jadi striker utama ternyata memang tidak works. Di menit 70, Arteta lalu berjudi dengan menarik Sterling dan memasukkan Merino yang biasa bermain sebagai gelandang tengah. 11 menit kemudian, di menit ke-81, Merino mencetak gol. 6 menit kemudian, Merino bikin gol kedua dan mengunci kemenangan Arsenal di pertandingan itu.

Hasil dari pertandingan itu membuat Arteta mendapat pujian dari media dan fans. Dia bisa membuktikan kalau Arsenal baik-baik saja walaupun dengan skuad yang tipis dan practically tanpa center forward. Sebagai fans, saya juga senang Arsenal menang dan prove doubters wrong. Tapi bukan cuma itu, saya juga jadi teringat sama buku yang baru saja selesai saya baca: Thinking in Bets.
Embracing ketidakpastian
Dalam hidup, kita sering menilai bagus tidaknya suatu keputusan dari hasilnya. Kalau hasilnya bagus, berarti keputusannya bagus dan vice versa. Inilah yang coba dijungkirbalikkan sama buku karya Annie Duke ini. Di Thinking in Bets, Annie Duke, seorang pemain poker profesional (yes, she is a pro in judi) sekaligus pakar psikologi kognitif, bilang kalau bahkan keputusan yang sudah dipikirkan dengan bener pun bisa menghasilkan hasil yang tidak diinginkan.
Menurutnya, kebanyakan hal dalam hidup ini bukanlah permainan catur, tapi lebih sebagai poker. Dalam catur, seorang pemain “cuma” perlu menjadi lebih pintar dan punya lebih banyak database chess movement. In chess, there must be a solution for every moves, a right procedure in any position. Catur juga secara natural tidak memiliki celah (atau mungkin sedikit) untuk menyembunyikan informasi. Semua langkah yang dilakukan pemain tercetak jelas di papannya. Ini kenapa catur jadi game yang diujicobakan saat akan mengetes kemampuan AI.
Sementara di poker, menjadi lebih pintar aja tidak cukup. Seorang pemain perlu tahu informasi-informasi yang tersembunyi dan tidak lengkap. Coba aja kalau kamu main poker, kamu ga bakal tahu kartu mana yang bakal keluar (unless you’re cheating). Ada elemen ketidakpastian yang membuat bahkan keputusan yang paling logis pun bisa menghasilkan hasil yang tidak sesuai harapan.
Ini sedikit banyak mirip sama pertandingan Arsenal vs Leicester di atas. Saat menghadapi Arsenal, Leicester dihadapkan pada informasi yang tidak lengkap mengenai bagaimana Arsenal akan bermain. Di atas kertas, Sterling akan memimpin lini depan sampai pluit panjang karena memang hanya dia yang tersedia. Ini juga adalah keputusan yang paling logis buat Arteta dan Leicester tahu itu. Yang tidak mereka tahu adalah bagaimana Arsenal akan bereaksi kalau skor masih sama kuat atau saat Arsenal tertinggal.
Di sepakbola, bahkan tim dari divisi paling bawah tetap punya chance untuk mengalahkan tim yang jauh di atasnya (Liverpool vs Plymouth Argyle F.C di FA Cup misalnya). Begitu juga dengan poker. Seorang pemula bisa saja mengalahkan pro player. Di catur, ini mustahil.
Dari sini, Annie Duke memperkenalkan apa yang dia sebut sebagai probabilistic thinking, supaya kita terbiasa dengan uncertainty.
Keberuntungan
Walaupun berjudi itu haram, tapi perlu diakui juga kalau setiap keputusan yang kita buat sebenarnya adalah perjudian. Setiap keputusan adalah hasil dari kombinasi antara skill + luck. Untuk keputusan-keputusan yang repetitif (so no or little hidden information), faktor luck-nya minimal jadi hasilnya akan most likely sama. Sayangnya, tanpa kita sadari, hal ini membuat kita kesulitan untuk memisahkan kualitas keputusan dari faktor kebetulan itu tadi.
Ini mirip kayak di situasi dimana fans bola (hampir) intuitively bilang kalau team di rank 6 ke atas akan menang melawan team di rank 6 kebawah. Ini karena hasilnya (hampir) selalu terjadi sehingga kita melupakan faktor luck (atau uncertainty) tadi.
Luck adalah faktor misterius yang ga kita tahu kapan datangnya. Di putaran 4 FA Cup antara Liverpool vs Plymouth Argyle F.C, siapa mengira kalau Harvey Elliott, seorang pemain professional, bisa melakukan pelanggaran receh kayak gitu di kotak penalty, kan?

Faktor luck ini essentially tidak bisa kita kontrol (walaupun ada motivator yang bilang untuk memperlebar luck surface area). Yang bisa kita utak-utik adalah skill/kemampuan kita dalam mengambil keputusan.
Di situasi seperti ini, Annie Duke memperkenalkan konsep pohon hasil atau outcome tree, dimana setiap keputusan bercabang menjadi berbagai kemungkinan masa depan.
Apa gunanya?
Untuk membantu pengambilan keputusan sambil tetap memperhitungkan faktor keberuntungan.
Reasoning errors
Di buku, contoh yang dipakai adalah sebuah pertandingan Super Bowl. Tapi saya tidak begitu familiar dengan olahraga ini. Jadi mari kita gunakan pertandingan Arsenal vs Leicester di atas.
Di pertandingan itu, Arsenal berhasil menang 2 gol tanpa balas berkat dua gol dari Merino. Media dan fans bola langsung menyebut ini sebagai Arteta’s masterclass. Tapi benarkah demikian?
Memainkan Merino sebagai ujung tombak jelas bukan keputusan yang ideal, terlebih dalam kondisi sedang mengincar gol. Dengan 3 pemain depan tersisa, merotasi posisi ketiganya adalah keputusan logis. Sterling di wing kiri, Trossard di center dan Nwaneri di wing kanan tidak berjalan sesuai harapan. Hasilnya, ada adjustment posisi sehingga Sterling dan Trossard bertukar posisi, dan sayangnya deadlock persist.
Arteta lalu memasukkan Merino (seorang pemain tengah) dan menarik keluar Sterling (winger kiri), di situasi sedang sangat butuh gol. Hasilnya, skenario terbaik terjadi dan Merino mencetak dua gol. Keputusan Arteta ini langsung dianggap jitu berkat momen itu.
Di buku, ini disebut resulting—kecenderungan menilai keputusan hanya berdasarkan hasil akhirnya, bukan prosesnya. In this case, keputusan Arteta jenius karena Merino berhasil membawa Arsenal menang.
Di lain sisi, ada juga yang namanya hindsight bias, dimana kita percaya kalau suatu event sudah terjadi, maka any other possible events are invalid di situasi yang sama di kemudian hari. Di kasus Arsenal vs Leicester tadi, Merino bisa membawa Arsenal menang karena dia punya aerial duel yang bagus dan bisa mengendus peluang, alias ini cuma alasan yang diada-adain aja karena kemenangannya udah kejadian.
Keduanya adalah bentuk dari reasoning errors, tapi muaranya sama: keputusan Arteta memasukkan Merino TEPAT karena Arsenal MENANG. Coba, gimana kalau di pertandingan itu Arsenal seri atau kalah?
Narasi yang beredar tentu akan memaki-maki Arteta.
Decision is a bet
Dua hal di atas menjebak kita dalam pola pikir deterministik, dalam artian mengulagi keputusan yang sama demi mendapat outcome yang sama. Padahal, every decision is a bet. Keputusan yang sama bisa menghasilkan hasil yang berbeda. Memakai contoh Arsenal di atas, Arteta bisa saja terjebak di keputusan untuk memainkan Merino lagi saat situasi deadlock dan butuh gol, padahal hasil yang diharapkan bisa banget berbeda daripada saat melawan Leicester kemarin.
Well, Ini bukan salah siapa-siapa, sih karena otak kita itu dibuat untuk mencari dan menemukan order (and certainty) out of chaos. Supaya tidak terjebak dalam pola pikir ini, Annie Duke lewat bukunya mendorong kita untuk berpikir secara probabilistik dengan cara memperkirakan peluang dari berbagai hasil yang diilustrasikan lewat outcome tree.
Outcome tree itu kira-kira bentuknya seperti ini:

Dengan menggunakan outcome tree, kita memahami kalau tidak ada keputusan pasti 100% benar atau 100% salah. Setiap keputusan memiliki probabilitas keberhasilan yang berbeda. Ini akan mengurangi beban emosional akibat outcome yang tidak sesuai harapan serta bisa dijadikan refleksi dan pembelajaran untuk pengambilan keputusan kedepannya.
Setelah kita sudah men-sort-out possible outcome ke dalam diagram, apa yang selanjutnya dilakukan?
Di sinilah bagian pentingnya.
Kelompok Belajar (Learning Pods)
Kita tidak selalu bisa mempercayai penilaian diri sendiri. Karena itu, Annie Duke menyarankan kita untuk membentuk kelompok belajar/learning pod. Dalam bahasa sehari-hari, ini bisa disebut meeting/rapat, tempat di mana anggota menganalisis keputusan bersama.
I know not all meeting built the same. Beberapa meeting bahkan bisa wasting time dan lebih baik tidak dilakukan sama sekali. Supaya efektif, setiap anggota harus berada di level pemahaman yang sama. Untuk memastikan hal ini, Annie Duke menyarankan sebuah framework yang disebut dengan CUDOS:
- Communism: Data adalah milik bersama—transparansi sangat penting.
- Universalism: Ide harus dievaluasi secara adil, terlepas dari siapa yang mengatakannya.
- Disinterestedness: Hindari bias pribadi dan konflik kepentingan.
- Organized Skepticism: Dorong pemikiran kritis dan perspektif berbeda.
Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, meeting yang dilakukan dapat efektif dan tidak buang-buang waktu.
Mental time travel
Konsep lain yang menarik dalam Thinking in Bets adalah mental time travel. Ini sebenarnya adalah berdiskusi dengan diri sendiri dari masa lalu atau masa depan.
Caranya mudah. Kamu cukup bertanya kayak gini:
- Apa yang akan dikatakan diri saya di masa lalu berdasarkan pengalaman sebelumnya?
- Apa yang akan dirasakan diri saya di masa depan tentang keputusan ini besok, minggu depan, atau tahun depan?
Well, cara ini sebenarnya dekat banget sama overthinking. So, mestinya sih kita udah terbiasa ya.
Backcasting dan Premortem
Untuk semakin menyempurnakan proses pengambilan keputusan, Duke memperkenalkan dua teknik strategis:
- Backcasting: Mulai dari hasil yang diinginkan dan mundur ke belakang untuk menentukan langkah-langkah yang diperlukan agar mencapainya.
- Premortem: Berasumsi bahwa keputusan telah gagal, lalu menganalisis mengapa hal itu terjadi. Ini membantu kita mengidentifikasi risiko dan strategi pencegahan sejak awal.
Kedua pendekatan ini membantu kita mempersiapkan tantangan dan mengambil keputusan dengan lebih matang.
Kesimpulan
Hidup adalah serangkaian taruhan yang dipengaruhi oleh kombinasi luck dan skill yang porsinya kita tidak tahu. Yang sering terjadi, kita menganggap keberhasilan diri sendiri karena skill dan kegagalan karena luck. Lebih jauh lagi, kita punya tendensi untuk meng-underrate skill orang lain jika gagal dan meng-overrate luck orang lain kalau berhasil. Padahal, nothing is 100% luck or 100% skill. Always both in tandem.
Sayangnya, kita tidak bisa mengontrol luck (karena ini adalah kekuatan ilahi), tapi kita bisa mengontrol skill dan cara kita memainkannya dengan cara berpikir secara probabilistik. Ini nantinya akan meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, dan mengurangi rasa penyesalan (jika gagal).
Blog post ini cuma summary dari apa yang saya pelajari soal mengambil keputusan yang lebih baik. Jika kamu mau mendalami hal ini lebih jauh, saya sangat merekomendasikan untuk membaca Thinking in Bets ini.
Leave a Reply