Nosferatu

Di weekend kemarin saya akhirnya menonton film horror yang mendapat kritik bagus dari orang-orang: Nosferatu.

Spoiler alert dulu, ceritanya adalah soal pengantin baru, Ellen dan Thomas, yang hidupnya “diganggu” oleh sosok yang menacing bernama Count Orlok. Ceritanya memang sesimple itu tapi dari beberapa review yang saya baca internet, mayoritas bilang kalau ini adalah film yang eksekusinya bagus. I leave that to you untuk menilai film ini, tapi yang jelas buat saya ini adalah film yang “gelap”, literally minim cahaya.

Tapi bukan itu purpose dari blog post ini. Selesai nonton, Nosferatu memancing rasa ingin tahu saya soal makhluk astral dari belahan dunia barat sana (lebih ke Eropa kali ya). Di sana, vampir sudah lama menjadi bagian dari cerita-cerita horor, berakar dari mitos kuno sebagai makhluk yang membawa kematian, penyakit, dan misteri.

Tapi tidak semua vampir diciptakan sama. Seiring berjalannya waktu, sosok vampir mengalami transformasi besar—dari makhluk buas dalam cerita rakyat, menjadi aristokrat elegan. Dan setelah googling sana-sini vampire secara umum dibedakan menjadi Dracula dan Nosferatu. Yang membedakan keduanya? Penampilan. Beneran ini.

Dracula

Ketika berbicara tentang vampir, banyak orang langsung membayangkan sosok Dracula—karakter yang pertama kali diperkenalkan oleh Bram Stoker dalam novelnya Dracula (1897). Terinspirasi dari legenda vampir Eropa Timur dan tokoh sejarah Vlad the Impaler, Dracula digambarkan bukan hanya sebagai monster haus darah, tetapi juga sebagai sosok aristokrat yang cerdas dan berkarisma.

Dracula bukan makhluk yang menyerang sembarangan—dia memikat korbannya dengan pesonanya, membujuk mereka sebelum akhirnya menghisap darah mereka. Dalam banyak adaptasi Dracula ini sering kali menjadi simbol godaan, nafsu terlarang, dan sekaligus juga ketakutan.

Nosferatu

Ini sebenarnya adalah adaptasi dari karakter Dracula yang muncul tahun 1922 akibat masalah hak cipta. Sejak adanya masalah itu, sutradara F.W. Murnau mengubah karakter Dracula menjadi Count Orlok. Hasilnya? Sebuah vampir yang jauh dari kesan elegan dan karismatik tapi justru buruk rupa dan menyeramkan.

Kalau dilihat dari popularitas, Karakter Count Orlok mungkin tidak sepopuler Dracula, tetapi pengaruhnya terasa di berbagai film horor modern. Yang terbaru adalah yang baru ya film yang saya tonton kemarin itu.

Ok. Enough about the ghost’s backstory. Mari kita bahas filmnya. Seperti yang tadi saya sudah sempat singgung di atas, filmnya dieksekusi dengan baik. Kengeriannya masih terasa sampai beberapa menit setelah keluar dari bioskop. Tapi selain itu, saya juga mendapat 4 pelajaran hidup dari sini. Mari kita kupas satu per satu.  

Childhood crush may win

Saya penonton anime, termasuk genre romance. Di genre ini, ada semacam unspoken rule, yaitu childhood crush is always lost.

Cek aja sendiri, ada berapa banyak karakter perempuan (atau laki-laki) yang gagal menjalin hubungan romantis sama MC hanya gara-gara dia teman masa kecilnya. Di Nosferatu, rule ini dijungkirbalikkan.

Ini karena, menurut dugaan saya dan beberapa penonton, Count Orlok bukan sekadar vampir acak yang meneror Ellen—dia mungkin adalah cinta pertama Ellen yang “tertidur” selama berabad-abad.  

Imagine gebetan masa kecilmu tiba-tiba muncul lagi setelah 200 tahun, masih menyimpan perasaan yang sama, tapi sekarang dia adalah makhluk abadi yang menyeramkan. Itulah Count Orlok.

Dan yang lebih parah? Cinta Ellen dan Orlok begitu kuat hingga Thomas, suami SAH Ellen, bahkan tidak diberi harapan buat bersaing. Kasihan si Thomas. 

Situationship is no no

Kita semua pernah melihat hubungan toxic (atau mungkin kamu sedang menjalaninya?), tapi Ellen jelas punya standar sendiri di luar nalar. Nafsu terpendamnya begitu kuat hingga literally membangkitkan evil spirit kuno dari tidurnya.

Akibatnya? satu kota diserang tikus dan wabah penyakit.  

Well, we know that banyak wanita yang suka pria bad boy, tapi Ellen? Dia memilih pacaran sama vampire yang penuh nafsu.  

Moral of the story: date a good guy, girl.

Don’t give ugly dude a chance

Poin ini mungkin terkesan diskriminatif tapi nyatanya ada banyak kasus dimana pria yang tidak tampan tapi seolah-olah menjadi penguasa dunia. Nosferatu kayaknya mengamini ini.

Jujur aja, Count Orlok jelas bukan pria tampan. Pucat, kurus kering, botak, dengan kuku panjang dan tajam. Intinya, bukan tipe pria yang bikin orang jatuh cinta pada pandangan pertama. Apalagi dia cuma menghabiskan waktu dengan mengurung diri di kastil aja.

Tapi tebak, apa yang terjadi Tapi begitu Ellen menunjukkan “sedikit” perhatian? Orlok langsung melekat seperti mantan yang nggak bisa move on (well, Orlok memang “mantan” Ellen sebelum Thomas, sih).  

Bersikap ramah ke orang yang salah memang bisa berujung bencana.  

Uang susah dicari

Banyak orang mengeluh soal ekonomi jaman sekarang yang terasa semakin sulit. Tapi buat Thomas Hutter, kondisi saat ini mungkin jauh lebih baik daripada Jerman tahun 1830-an. 

Bayangkan saja, Thomas sampai rela menerima pekerjaan ke kastil terpencil dan menemui klien yang jelas-jelas mencurigakan. Kenapa? Karena dia sangat butuh uang, apalagi dia dan Ellen adalah newlywed yang kebutuhannya banyak. 

Dan yang lebih parah? Thomas praktis “menjual” istrinya demi tambahan bonus!

Please, sesulit-sulitnya cari uang, don’t be like Thomas.

Orlok is Robotnik, but much older

Kamu tahu Dr. Robotnik yang diperankan Jim Carrey di film Sonic the Hedgehog? Nah, bayangkan kalau karakter itu dikurung di dalam peti mati selama ratusan tahun, kehilangan semua karismanya, dan punya suara berat yang mengintimidasi.  

Itulah Count Orlok. Can’t change my mind since.

Kesimpulan

Nosferatu adalah film horor yang bagus. Jumpscare-nya terbilang minimal tapi storytelling-nya juara. Count Orlok di sini bisa menyebar terror bahkan saat penampilannya cuma keliatan sebentar dan sedikit.

Saat blog post ini di-publish, Nosferatu masih bisa ditonton di bioskop.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *