Takopi and the Dip

Di beberapa bulan terakhir, saya sering ngerasa… ketinggalan. Bukan ketinggalan deadline report (walaupun itu juga sering, sih wkwk), tapi ketinggalan hidup.

Kemarin, saya lihat Instagram story dan LinkedIn mantan teman sekamar saya waktu di asrama dulu. Nilai-nilainya so-so saja tapi dia bisa mengkompensasinya di hal lain. Saya ingat betul dia adalah orang yang punya inisiatif dan leadership. Dia jadi ketua asrama cowok, mengatur kerja bakti tiap sabtu pagi. Dia juga punya bakat olahraga, terutama di sepakbola. Kalau ga salah dulu pernah ikut training center team professional lokal juga.

Sekarang, dia lebih hebat lagi. Dia jadi salah satu orang di balik penyelenggaraan sport youth competition di salah satu venue paling prestisius di Indonesia. Sekelas komika saja, baru Pandji Pragiwaksono yang mampu bikin show di situ. Foto-fotonya di belakang layar, ngobrol sama atlet nasional, ketemu menteri, … dan saya? Saya lagi di depan laptop, benerin #N/A di cell V107.

When I see that, rasanya… bitter.

Mungkin orang bilang ini crab mentality—iri lihat orang naik, terus ingin narik mereka ke bawah. Tapi bukan itu. Saya tidak ingin dia gagal. Saya cuma penasaran.

Apakah saya juga mampu mengemban tanggungjawab sebesar itu kalau saya bertukar nasib sama dia?

Otak saya langsung nyerang lagi diri sendiri: “Kalau misalnya saya berhenti kerja kantoran dan milih jalan dia, hidup saya bakal beda gak ya?”

Dan pas lagi di titik itu, pas lagi merasa seperti NPC di film orang lain, saya beli buku tipis berjudul The Dip karya Seth Godin. Cuma 90-an halaman dan ini sudah termasuk acknowledgment dan daftar isi. Harganya kira-kira cuma seporsi Yoshinoya. Tapi saya membacanya dengan sangat lambat karena sibuk menghina One Punch Man S3 dialog-dialog yang terjadi di kepala hampir setiap selesai satu paragraph.

The Dip

Sejujurnya, The Dip ini semacam versi yang jauh lebih sederhana dari Quit-nya Anne Duke. Bedanya, Anne Duke lebih “saintifik” sementara The Dip lebih mirip yapping-nya Timothy Ronald. Bakal banyak digoblok-goblokin aja rasanya.

Kalau Quit lebih menekankan perlunya probabilistic thinking, The Dip ini lebih binary: either you’re the best or you quit.

The dip saya artikan sebagai “challenge”. Only if kita bisa melalui the dip ini, kita bisa jadi pemenang, menjadi kepala dan bukan ekor.

Di bukunya, Godin bilang ada 3 jenis the dip:

  1. The Dip: Jalur yang awalnya lancar, lalu tiba-tiba susah banget. Tapi kalau kamu bisa melewatinya, kamu jadi salah satu dari sedikit orang yang excellent di bidang itu.
  2. Cul-de-sac: Jalan buntu. Keliatan lurus, tapi lama-lama kita sadar kalau ga ada progres, cuma muter-muter aja.
  3. Cliff: Ini kenikmatan sesaat, arguably yang paling bahaya. Keliatan keren, lo lompat, eh… ternyata jurang.

Ketiganya bisa dinilai dengan mudah in the hindsight, alias pasca kejadian. Hampir mustahil bisa dengan pasti mengidentifikasinya at that moment. Untuk hal ini, Quit-nya Anne Duke lebih bagus menjelaskannya. Tapi intinya, The Dip (dan Quit) menekankan kalau sticking to something obsolete/mediocre is such a waste of time and resources.

Untungnya, dunia kita adalah dunia yang kompleks, sekaligus juga sederhana. Ada banyak “the dip” yang bisa dipilih sesuai selera atau kemampuan. Tinggal bagaimana kita punya “kerendahan hati” untuk mengakui kalau posisi kita sekarang bukan the dip, tapi cul-de-sac. Only if kita membuang ego dan mengakuinya, barulah kita bisa jump ship fast.

Di titik ini, saya langsung teringat anime Takopi’s Original Sin

Takopi

Takopi’s Original Sin adalah anime pendek yang awalnya saya kira cuma lucu-lucuan buat ngisi waktu luang. Animenya bahkan bisa ditonton gratis di YouTube Ani-One Indonesia.

Takopi, karakter utamanya, itu makhluk kecil berwujud gurita gemas dari Happy Planet. Tujuan hidupnya mirip Doraemon, membantu Nobita-nobita di luar sana untuk hidup bahagia. Takopi berusaha bikin orang lain senang, dalam hal ini adalah Shizuka, sounds noble, until it is not.

Takopi ini “bertugas” membuat Shizuka happy selalu. Sayangnya, Shizuka ini selalu jadi korban bully dari anak populer sekolahnya, Marina.

Shizuka ini luar biasa miris. Di sekolah dibully, di rumah dianggap ga ada sama ibu kandung sendiri. Satu-satunya kawannya adalah Chappy, seekor anjing pemberian ayahnya. Saat Marina memisahkan Shizuka dari Chappy, Shizuka membunuh dirinya sendiri, aka Takopi failed on his sole mission.

Macam-macam cara udah Takopi coba untuk membuat Shizuka happy tapi semuanya gagal, kecuali saat Takopi tanpa sengaja membunuh Marina. Ini jelas salah, tapi ini juga membuat hidup Shizuka lebih bahagia.

Long story short, Takopi ternyata sudah ketemu Marina duluan, jauh sebelum ketemu Shizuka. Di timeline Marina, Takopi juga melakukan hal yang sama: menghilangkan Shizuka supaya Marina bahagia.

See the subtle message?

Both Marina dan Shizuka ternyata ga minta buat bahagia selalu. Mereka butuhnya endurance buat melewati kesulitan-kesulitan di hidup mereka. Dan endurance ini datangnya dari ikatan antara sesama mereka.

Masalahnya cuma di kepala Takopi sendiri: dia merasa punya “dosa” yang harus ditebus. Dia tidak menangkap pesan itu. Takopi terus “ngotot” jadi pahlawan—meski ga ada yang minta dibahagiakan.

Ini mirip pas kita:

  • Masih maintain hubungan yang udah jelas toxic, karena “udah lewatin banyak hal bareng”
  • Bikin es kepal milo cuma karena “dulu sempat viral”
  • Melanjutkan proyek yang ga feasible, karena “udah invest jutaan dollar”

Padahal, kalau ga ada feedback positif, itu bukan the dip, itu cul-de-sac atau cliff.

Kembali ke Takopi. Takopi (kalau tidak salah) sudah seratus kali mengulang waktu di timeline Shizuka (atau mungkin di timeline Marina juga?). Seluruhnya tidak berakhir baik. Takopi memaksakan idealismenya ke situasi Shizuka dan Marina. Takopi mestinya belajar untuk quit.

Well, Takopi is eventually quitting at the end of the episode. But he is like forced to quit, which is the worst timing to do that.

Seth Godin gak ngomong soal dosa atau perasaan bersalah. Tapi dia kasih satu prinsip yang pas banget buat Takopi:

The pain of quitting just gets bigger and bigger over time. I call this curve a Cliff—it’s a situation where you can’t quit until you fall off, and the whole thing falls apart.

Quit fast, sebelum semuanya terlambat.

Akhir

At the end of the day, usaha keras yang serampangan ga akan menghasilkan apa-apa kecuali waktu dan tenaga yang terbuang. Solusinya? Berhenti.

Berhenti ini deep down adalah soal kejujuran, sama diri sendiri.

Apakah usaha ini beneran ngarah ke sesuatu… atau cuma pelarian dari rasa takut dan ego?

Saya sendiri masih belajar.

Bitterness yang saya rasakan pas lihat orang lain berhasil adalah buktinya. Saya merasa cemburu saat orang lain seperti sudah menemukan jalannya, sedangkan saya tidak.

Apakah saya langsung fullfilled saat berhenti dari yang saya lakukan sekarang dan menghidupi jalan teman saya itu? Ga tau juga. Gimana kalau situasi sekarang ini “cuma” the dip yang dideskripsikan Seth Godin di bukunya tadi?

Too many possibilities, but inilah yang saya pegang teguh: Yeremia 29:11-14 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *