YOLO

Tahun baru semangat baru. Ideally begitu.

Tapi semangat tahun baru biasanya cuma berlangsung selama seminggu. Setelahnya, semangat menggebu-gebu itu meluntur dimakan realitas dan rutinitas.

Saya pun juga begitu. Masuk tahun baru, saya punya resolusi untuk lebih sehat dan bugar. Di awal tahun, saya coba untuk berjalan kaki 15k setiap hari. Saya juga membuat schedule makan untuk puasa dari jam 4 sore sampai 11 pagi. Masuk hari ke-28 saat tulisan ini di-post, kaki-kaki ini makin berat dan perut ini makin sering memberontak.

Saya lalu sadar kalau resolusi tahun baru saya ini adalah mental game. Pertarungan sebenarnya ada di kepala. Ada di mindset. Saya jelas punya pilihan untuk kembali ke gaya hidup yang lama. In fact, ini adalah pilihan tergampang.

Untungnya, di hari libur panjang ini saya menemukan film YOLO (热辣滚烫 / Re La Gun Tang/Hot, Spicy, Boiling and Burning) di Netflix.

Semangat tahun baru itu yang mulai padam itu kini kembali muncul, dan semoga bisa bertahan sampai akhir tahun. Wismilak.

Jalan cerita

MC kita adalah Du Leying, seorang pengangguran yang hobinya mengurung diri di rumah orang tuanya (weebs menyebutnya sebagai hikkikomori). Selayaknya hikkikomori, sehari-hari Leying cuma makan, tidur, main sebentar lalu tidur lagi selama 10 tahun belakangan. Ini membuat adiknya, Du Ledan, melihat Leying sebagai benalu dan kegagalan keluarga.

Hubungan Leying dan Du Ledan makin memburuk saat adiknya itu kini juga harus tinggal bersama kedua orang tuanya (dan Leying) pasca bercerai. Masalah hidupnya diperparah dengan fakta kalau pacarnya ternyata berselingkuh dengan sahabatnya sendiri!

Merasa teman dan keluarganya sudah tidak peduli lagi, Leying kabur dari rumah. Dia memutuskan untuk bekerja dan hidup sendiri. Dia bekerja sebagai pramusaji di sebuah restoran all you can eat. Di samping restoran itu, ada gym untuk bertinju. Di sana lah dia bertemu dengan Hao Kun.

Hao Kun basically adalah trainer tinju sekaligus sales di gym itu(tapi dia ga serius jualan sih). Karena kemampuan bersosialisasinya kurang + lagi di posisi sedang terpuruk, Leying termakan “godaan” Hao Kun untuk menjadi anggota gym.

Di sana, Leying berlatih cukup keras, tapi tidak sekeras usahanya untuk menyemangati Hao Kun. Leying mulai menjadi terlalu attached ke Hao Kun (mungkin karena Leying berpikir dia bisa “menitipkan” mimpinya keHao Kun). Leying bahkan sampai menyuap membayar 5000 Yuan hanya supaya Hao Kun bisa ikut berkompetisi.

Tidak berhenti sampai di situ, Leying bahkan memasakkan makanan bergizi gratis buat Hao Kun padahal dia bukan Prabowo. Tapi Hao Kun ternyata tidak berbeda dengan yang lain. Hao Kun disuap dengan bayaran 30 ribu Yuan supaya mengalah! Ini jelas menyakiti usaha-usaha yang sudah dilakukan Leying.

Setelah pisah dengan Hao Kun, Leying bertemu lagi dengan sepupunya (sorry, saya lupa namanya). Dia mengajak Leying untuk menjadi peserta reality show buat pencari kerja Temukan Dirimu (don’t ask me, I don’t know apakah show kayak gini beneran ada atau tidak di mainland sana). Selayaknya reality show di sini, acaranya penuh gimmick, tapi gimmick video yang disiarkan itu bikin Leying sakit hati. Lebih sakit lagi ternyata sepupunya itu tidak menganggap Leying sebagai keluarga, hanya sebgai batu loncatan supaya diangkat menjadi full-time. Tidak lebih.

Leying sudah terlalu sering “kalah” dan dianggap sampah. Dia ingin menang barang sekali saja. Di titik terendah itu, Leying memutuskan untuk menemukan kembali dirinya, lewat olahraga boxing.

Boxing yang sarat aktivitas fisik jelas susah banget buat Leying yang biasanya rebahan kayak saya. Tapi dia tidak menyerah. Semangatnya untuk menang barang sekali saja bikin dia losing 50kg in a year!

Leying jadi lebih sehat dan lebih fit, tapi long story short, dia tetap kalah di kompetisi resmi, di mata kita sebagai penonton. Dari sudut pandangnya, dia sudah menang, dari dirinya yang lama.

Impression

Sejujurnya, YOLO ini klise, amat sangat tipikal from zero to hero. A loser starts taking her life back. Tapi eksekusi adalah kuncinya.

YOLO tidak terasa menggurui atau menyombongkan diri. Kesan yang saya dapat justru adalah kehangatan. Gimana hangatnya Leying kepada orang-orang yang at the end memanfaatkan dirinya. Setengah durasi film literally menampilkan hal ini. I mean orang normal seharusnya punya trust issue kan setelah 2 kali dicampakkan kayak gitu?

Setengah durasi lainnya adalah soal transformasi Leying. Leying sadar kalau tak ada gunanya menyalahkan orang lain. Dia sadar kalau yang salah adalah dirinya sendiri. Dia terlalu mudah mengalah demi orang lain. Dia terlalu mudah membuarkan dirinya masuk ke tipu muslihat orang lain. Menyadari ini adalah kunci perubahannya menjadi orang yang baru. Dia memilih tinju sebagai medium untuk meluapkan amarahnya bukan pada orang-orang toxic tadi, tapi pada dirinya sendiri.

Tinju (dan sport lain) bukan cuma soal kemenangan. Kalau mau menang, cara instannya tinggal bikin sendiri pialanya. Lebih dari itu, ini adalah soal mental game. You spend days/months of training for a mere 2 hours in the ring. Ini tidak mudah karena ya hasilnya is never instant.

Leying pun begitu. She spends one full year of hellish training and clean eating before naik tanding. Ini jelas sulit. Bukan cuma fisik yang ditempa, tapi juga mental. Leying can easily quit, no one is forcing her but herself. Tapi dia tetap melatih diri sampai-sampai berat badannya turun 50kg. One without mental, pasti memilih beli obat kurus, suplemen, sedot lemak dll instead of doing what Leying did. Tapi ingat, tujuan utama Leying bukan untuk kurus, tapi untuk menang dari dirinya yang lama. Ini yang membuat perjalanannya jadi hangat.

YOLO berhasil mencampur drama, komedi, dan aksi dengan takaran yang pas, menciptakan sajian yang menghibur sekaligus menginspirasi.

Sukses yang Tak Disangka-sangka

Agaknya bukan cuma saya yang tersentuh sama cerita Leying. Menurut data, ada [ ] lain yang merasakan hal yang sama kayak saya. Film ini pun sukses meraup 3.4 miliar Yuan di box office. YOLO cuma kalah dari Dune: Part Two sebagai film terlaris di 2024.

Di negara yang perfilmannya biasa diisi oleh tema kepahlawanan dan nasionalisme, kesuksesan YOLO ini bisa dibilang anomali. Selain dari kualitas ceritanya, salah satu alasan lain bisa jadi karena faktor Jia Ling selaku sutradara dan pemeran Du Leying.

Saya kurang familiar dengan Jia Ling, but dari informasi dari wikipedia, dia adalah komedian, sutradara sekaligus aktris yang sudah malang melintang di industri hiburan di sana.

Di YOLO, komitmen Jia Ling benar-benar diuji. Pasalnya, dia beneran komitmen untuk menurunkan berat badan lho buat perannya ini. But again, in various interview, dia selalu menyatakan kalau YOLO bukan film tentang diet, bahkan bukan tentang tinju. YOLO adalah kisah tentang menemukan kekuatan dalam diri sendiri. Rispek.

Penutup

YOLO bukan sekadar film hiburan biasa. Ini adalah bukti bahwa kisah transformasi seorang Leying, bila diceritakan dengan jujur dan tepat, bisa menyentuh penonton universal. Dan seperti makna judulnya – You Only Live Once – film ini mengingatkan kita untuk berani membuat perubahan dalam hidup, karena kesempatan tidak datang dua kali.

Beberapa orang mungkin tidak suka karena filmnya terkesan tidak mem-promote body positivity. But percayalah, kalau dilihat lebih dalam, YOLO adalah soal mengalahkan versi diri yang terdahulu.

Salam olahraga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *